Sejarah Igo di Jepang
Igo adalah permainan papan tertua dan salah satu permainan papan paling populer di dunia. Di Jepang saja, terdapat 10 juta pemain aktif. Pemain profesional menghidupi dirinya dengan mengajari permainan ini dan mengikuti turnamen berhadiah jutaan yen.
Asal-usul permainan ini terselubung dalam sejarah tak tertulis China kuno. Salah satu anekdot yang populer adalah bahwa permainan ini diciptakan Kaisar Yao (2357-2256 SM) sebagai hiburan untuk anaknya yang idiot. Cerita lain menyebutkan bahwa Kaisar Shun (2255-2205 SM) membuat permainan ini dengan harapan meningkatkan kemampuan berpikir anaknya yang lemah. Ada juga cerita yang mengaitkan penciptaan igo dengan Wu, abdi Kaisar Jie (1818-1766). Kisah terakhir mengatakan bahwa igo dibuat oleh para astrolog
kerajaan zaman dinasti Zhou (1045-255 SM).
Tulisan tertua tentang igo adalah pada "Analects" karangan Confucius yang ditulis sekitar abad 5 SM. Bukti fisik tertua adalah papan 17x17 yang ditemukan pada makam dinasti Han.
Kemungkinan besar igo dibawa ke Jepang dari Korea oleh para seniman, kaum terpelajar, dan pegawai pemerintahan yang bermigrasi ke Jepang untuk menghindari kekacauan politik Korea. Tidak ada catatan yang menyebutkan kapan tepatnya igo masuk ke Jepang. Menurut “Catatan Sui” yang mengisahkan sebuah dinasti
China, igo adalah salah satu aktivitas santai utama penduduk Jepang pada awal abad ke-7 (dua lainnya adalah
backgammon dan berjudi).
Namun kepercayaan umum di Jepang adalah igo langsung dibawa dari China pada tahun 735 oleh Kibi no Makibi, yang dikenal sebagai Perdana Menteri Agung Kibi. Dia diutus ke Tang oleh putri Kaisar untuk membawa pulang hal-hal terbaik dari sana. Setelah 18 tahun di China, Kibi kembali dengan berbagai benda yang menurutnya hal-hal terbaik dari kebudayaan China. Dia juga kembali dengan pengetahuan bermain igo.
Kemungkinan besar, saat Kibi mengabarkan kaum kerajaan Jepang bahwa igo sangat populer di kaum kerajaan Tang, status igo menjadi sangat dimuliakan di kalangan elit Jepang. Kibi adalah tokoh yang berperan penting dalam menaikkan perstise igo di Jepang.
Di abad ke-12, kelas militer memiliki pengaruh besar dalam kekuasaan Jepang, dan sampai abad ke-17 negeri ini terus-menerus dilanda perang. Pada masa tersebut, igo sangat dihargai oleh para jenderal - beberapa percaya bahwa mempelajari taktik dan strateginya adalah pelatihan yang sangat baik unuk moral dan intelektual para tentara. Tiga tokoh perang besar – Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi, dan Tokugawa Ieyasu – adalah pemain igo, dan mereka mempekerjakan guru untuk melatih mereka sendiri beserta bawahannya.
Sejak awal abad ke-17, empat perguruan igo didirikan: Honinbo, Inoue, Yasui, dan Hayashi. Perguruan tersebut didanai oleh pemerintah. Keempat perguruan ini bersaing untuk mencari pemain berbakat dan memberikan sumbangsih besar dalam pengembangan teori dan teknik igo. Ini adalah masa keemasan igo di Jepang.
Kemakmuran dunia igo tiba-tiba pudar pada tahun 1860 karena keruntuhan Shogun Tokugawa (restorasi Meiji). Ini adalah masa kekacauan politik dan banyak hal yang dirombak. Dana dari pemerintah dihentikan pada tahun 1868, dan para kepala perguruan beserta muridnya menyadari bahwa mereka sekarang berada di dunia baru dimana tradisi lama dikesampingkan.
Sekitar 1880, minat igo kembali bangkit di bawah dukungan pribadi. Koran-koran mulai menampilkan rekaman pertandingan profesional. Pada 1910, sudah ada lebih dari selusin koran dengan kolom khusus untuk igo. Pada 1924 Nihon Kiin (asosiasi igo Jepang) didirikan, dan dunia profesional igo modern dimulai. Saat ini ada sekitar 500 pemain profesional di Jepang.
aklsklsajklsajjsajlksajklasjlkajklajklsajlsajsajlal